Setiapmasuk ke dalam, binatang itu menggoyang-goyangkan tubuhnya dan secara ajaib berubah menjadi seorang pemuda yang tampan. Melihat hal itu, para pekerja segera meringkusnya. Berdasarkan cerita rakyat suku Dayak di Kalimantan Tengah, pemuda jadi-jadian itu berhasil ditangkapnya. la minta ampun agar dilepaskan. Ceritarakyat bali: Legenda Kebo Iwa. Pada jaman dahulu, di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang sangat kaya raya. Akan tetapi mereka belum dikaruniani anak. Untuk itu, pergilah mereka ke pura untuk sembahyang dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniani seorang anak. Mereka melalukan sembahyang setiap hari tanpa hentinya. Sebagaimanalegenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki. Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Kaliini deviasi satu tale person Kalimantan Timur yaitu legenda Danau Lipan yangi menjadi kita ceritbecome karena adik-adik semua. Ceritanya seru namun mengandungai menodai moral yanew york baik. Anda sedang menonton: Cerita rakyat sulawesi selatan yang singkat. cerita person ringkas Kalimantan Timur Terpopuler : Legenda Danau Lipan Beranda/ Naskah Drama Ande Ande Lumut Singkat : Drama Dan Cerita Rakyat Di Kalimantan Timur Pdf Download Gratis - Cerita rakyat ande ande lumut bahasa jawa, disini akan dibahas mengenai amanat ande ande lumut, unsur instrinsik, naskah drama, amanat, sinopsis, . Pulausulawesi daftar cerit a rakyat sulawesi utara. Asal pulau kambang dan kera. Macam Macam Cerita Rakyat Kalimantan Terbaik Dalam rangka ngeramein ultahnya kas kus yg ke 13 ane ikutan bikin thread yg ada serba 13nya yak ini thread yg ane buat ngingetin agan ceritacerita rakyat indonesi yang mulai jarang di perbincangkan yaitu 13 kumpulan cerita rakyat indonesia yg penuh makna ok gan Masyarakatyang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya. Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi. Belicerita rakyat dari kalimantan selatan di BANDAR BUKU MURAH. Promo khusus pengguna baru di aplikasi Tokopedia! Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Tokopedia Care. Kategori. Masuk Daftar. rtx 2060 rtx 3060 iphone 13 pro sepatu pria Halloguyss, nah kali ini gua mau cerita tentang Kuntilanak Cebol yang suka nyulik anak kecil guys. Ini cerita asli dari Rakyat Sintang Kalimantan Barat, dulu Almarhum Kakek gua sering cerita tentang Kuntilanak Cebol alias Kamak ini guys, nahh langsung aja ni ke ceritanya. Tapi sebelumnya siapin kopi dulu ya guys biar ngak ngantuk hahaha. 1 Latar Belakang. Latar belakang perlawanan rakyat Maluku mengusir bangsa Belanda karena adanya praktik monopoli dan sistem pelayaran Hongi yang membuat rakyat sengsara. Belanda melaksanakan KuYXfnQ. Cerita Batu Menangis adalah dongeng rakyat Kalimantan Barat yang sangat terkenal. Konon hingga saat ini batu tersebut masih mengeluarkan air. Kalian tentunya penasaran dengan legenda batu menangis ini. Kakak ceritakan dengan lengkap yah. Selamat membaca. Di sebuah desa tinggalah seorang ibu bersama anak perempuannya yang bernama Darmi. Gadis itu memang rupawan, sayang sifatnya tak secantik wajahnya. Darmi adalah gadis pemalas yang hanya gemar bersolek. Setiap hari ia mematut dirinya di depan cermin, mengagumi kecantikan wajahnya. “Ah, aku memang jelita,” katanya. “Lebih pantas bagiku untuk tinggal di istana raja daripada di gubuk reot seperti ini.” Matanya memandang ke sekeliling ruangan. Hanya selembar kasur yang tidak empuk tempat dia tidur yang mengisi ruangan itu. Tidak ada meja hias yang sangat dia dambakan. Bahkan lemari untuk pakaian pun hanya sebuah peti bekas. “Sampai kapan aku akan hidup seperti ini?” keluh Darmi dalam hati. Darmi memang bukan anak orang kaya. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya tak punya banyak uang. Untuk menghidupi mereka berdua, sang ibu bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam. Pekerjaan apapun dia lakukan, mencari kayu bakar di hutan, menyabit rumput untuk pakan kambing tetangga, mencucikan pakaian orang lain. Pekerjaan apapun akan ia lakukan untuk memperoleh sedikit upah. Sebaliknya Darmi adalah anak yang manja. Sedikit pun dia tak iba melihat ibunya bekerja keras sepanjang hari. Ia bahkan tak tergerak untuk ikut membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah. Dan jika ada sesuatu yang sangat diinginkannya, ia pun akan merengek agar permintaannya dituruti. Seperti minggu lalu, saat seorang kawannya dari desa di Utara sungai yang mengadakan pesta perayaan. Darmi mendapat undangan untuk menghadirinya. Tentu saja hal teresebut membuat gadis cantik itu senang bukan kepalang. Dibayangkannya tamu-tamu dalam pesta itu akan memandangi wajahnya yang rupawan. Para pria memuji kecantikannya, sementara para wanita mungkin akan iri hati melihat penampilannya. Namun tiba-tiba Darmi teringat bahwa ia tak memiliki pakaian yang pantas dikenakannya di pesta tersebut. Segeralah ia mencari ibunya yang sedang memasak di dapur. “Ibu, tolong belikan aku pakaian dan selendang baru. Lusa akan ada pesta di desa Utara sungai, dan aku tak punya pakaian yang pantas. Bajuku sudah usang semua,” kata Darmi merengek. “Bukankah minggu lalu kau sudah beli baju baru? Mengapa tak kau pakai yang itu saja. Masih bagus bukan?” ujar sang ibu. “Aaah, tidak mau. Baju yang itu sudah pernah aku pakai, malu dong pakai baju yang itu-itu lagi. Apa kata orang nanti?! Ayolah, Bu belikan aku pakaian lagi.” Sang ibu hanya bisa menghela napas panjang mendengar permintaan anak semata wayangnya itu. Ia tak tega padanya. “Baiklah, besok pagi kita akan membelinya di pasar.” “Tidak mau.” Teriak Darmi kasar. “Aku tidak mau pergi ke pasar dengan ibu. Sebaiknya ibu berikan saja uangnya padaku agar aku bisa membelinya sendiri.” “Tapi, Darmi, besok Ibu harus ke pasar terlebih dahulu untuk menjual kayu bakar yang ibu dapatkan hari ini. Setelah terjual, baru uangnya bisa kau belikan pakaian. Bukankah Iebih baik kita berangkat ke pasar bersama-sama?” Darmi terdiam. Ia sebenarnya tak ingin pergi ke pasar bersama ibunya. Ia malu dan khavvatir jika ada orang yang melihatnya berjalan bersama wanita tua itu lalu mengejeknya. Akan tetapi, gadis itu tak punya alasan untuk menolak, sebab tanpa uang hasil penjualan kayu bakar, ia tak mungkin bisa membeli pakaian baru. Akhirnya, Darmi masuk ke kamarnya sambil cemberut dan menggerutu. Keesokkan paginya, mereka bersiap hendak ke pasar. Darmi terlihat sangat cantik dengan baju merah mudanya yang terlihat mahal, sementara sang ibu mengenakan pakaian Iusuh. Darmi berjalan cepat sekali, rnembuat ibunya tak mampu mengikutinya. “Hai, Darmi. Mengapa kau berjalan cepat sekali menginggalkan aku di beIakangmu. Kau tau aku tak kuat menyusul langkahmu.” Darmi diam saja, dan terus mempercepat Iangkahnya. Ia tak ingin ketahuan berjalan bersama ibunya. Di tengah jalan, Darmi disapa oleh beberapa orang dari desa tetangga yang menyapanya. “Hai Darmi, mau pergi kemana kau?” sapa mereka. “Aku mau ke pasar,” jawab Darmi. “Oh, siapa nenek yang di belakangmu itu? Ibumu kah?” Seketika wajah Darmi terlihat memerah karena malu, “Oh bukan! Bukan! Mana mungkin dia ibuku.” Jawab Darmi cepat. Ia pun segera mempercepat langkahnya agar tak ditanya-tanya lagi. Betapa terkejutnya sang ibu mendengar perkataan anak kesayangannya itu. Rasa marah mulai muncul dalam hati karena gadis itu tidak mau mengakui dirinya sebagai ibu. Namun ia menahan amarahnya dan berharap Darmi akan segera berubah pikiran. Sayangnya, harapan sang ibu tak terjadi. Sepanjang perjalanan mereka bertemu beberapa orang lagi, dan Darmi terus mengatakan hal yang sama. Akhirnya sang ibu tak tahan lagi kesedihan. Sambil bercucuran air mata, ia pun menegur anaknya. “Wahai anakku, sebegitu malunya kah kau mengakui aku sebagai ibumu? Aku yang melahirkanmu ke dunia ini. Apakah ini balasanmu pada ibumu yang menyayangimu?” Darmi menoleh kesal dan membentak, “Aku tidak minta dilahirkan oleh ibu yang miskin sepertimu. Aku tidak pantas menjadi anak ibu. Lihatlah wajah ibu’ Jelek, keriput dan lusuh! Ibu Iebih pantas jadi pembantuku!” Dengan angkuh, Darmi terus melangkah meninggalkan sang ibu yang terduduk di pinggir jalan. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya. Perasaannya remuk rendam, tak mampu ia berkata-kata selain mengadahkan kedua tangannya ke langit. Rasa sakit di hatinya membuat ia kutukan. “Tuhan, hamba tidak lagi menahan penghinaan anak hamba ini! benar telah membatu hati anak hamba ini, karena itu, Ya Tuhan, hukumlah anak hamba durhaka itu menjadi batu!” Doa sang ibu terkabul. Tiba-tiba langit menjadi gelap, awan biru berubah berubah mendung dan kilat menyambar-nyambar diiringi guntur yang menggelegar. Darmi merasa sangat takut, lalu ia mencoba berlari menjauh. Saat itulah ia menyadari bahwa kedua kakinya berubah menjadi batu. Darmi menjerit ketakutan. Betapa mengerikannya perasaan yang dialaminya ketika mendapati kedua kaki berubah menjadi batu. Ia kian ketakutan mendapati pinggangnya pun berubah membatu. Sadarlah ia, semua itu terjadi karena kedurhakaan besarnya kepada ibunya. Maka dia pun berteriak-teriak,”Ibu, ampuni aku! Ampuni aku! Ampuni kedurhakaan anakmu ini, Bu” Legenda Cerita Batu Menangis Namun, semuanya telah terlambat bagi Darmi. Sang ibu hanya terdiam. Sama sekali tak berusaha mengabulkan permohonan anaknya yang telah berbuat durhaka terhadapnya. Ia merasa telah cukup mengalami penderitaan yang diakibatkan anaknya itu. Hingga akhirnya seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Batu jelmaan Darmi itu terus meneteskan air seperti air mata penyesalan yang menetes dari mata Jelita. Orang-orang yang mengetahtui adanya air yang terus menetes dari batu itu kemudian menyebutnya Batu Menangis. Pesan Moral dari Cerita Batu Menangis – Dongeng Kalsel adalah hormati kedua orangtua kamu, terutama ibu yang sudah melahirkan kamu. Membuat ibumu bersedih atas tingkah lakumu yang tidak baik hanya akan membuat hidupmu susah di kemudian hari. Baca juga cerita rakyat Kalimantan lainnya pada posting kami berikut ini Cerita Rakyat Dongeng Batu Menangis Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Radin PangantinDiceritakan Kembali oleh Jamal T. SuryanataALKISAH, zaman dahulu kala terceritalah seorang perempuan tua bernama Diang Ingsun yang hidup di sebuah kampung kecil bersama anak lelaki semata wayangnya, Radin Pangantin namanya. Mereka tinggal di rumah panggung tua yang sesungguhnya tidaklah layak disebut rumah, tapi lebih pantas kalau disebut gubuk. Sebab, rumah itu hanyalah sebuah bangunan kecil beratap daun rumbia, berdinding anyaman bambu, dan berlantai bambu pula. Itu pun kondisinya sudah serba musim penghujan tiba, di tengah malam tidak jarang Diang Insun terbangun dan harus membopong anaknya berpindah tempat tidur akibat rembesan air hujan melalui celah-celah atap rumahnya yang sudah tiris di sana-sini. Jika sudah demikian, dengan isak tangis yang tertahan perempuan tua itu hanya bisa mengelus dada sambil menatap wajah anaknya yang masih polos tak berdosa. Ia coba untuk selalu bersabar meneriba cobaan seraya berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan hidup mereka menjadi lebih baik. Memang, hidup di kampung kecil yang jauh dari keramaian ditambah dengan mata pencaharian yang tidak menentu tentulah membuat siapa pun akan hidup prihatin. Jangankan untuk membeli pakaian yang bagus, sedangkan untuk makan sekali sehari saja sudah cukup susah bagi mereka. Apalagi Diang Ingsun selama ini hanya menopangkan hidupnya dari kebun kecil-kecilan yang ada di sekeling rumahnya. Sebab, selain sebuah sampan tua dan gubuk kecil yang kini mereka tempati, mungkin sepetak tanah pekarangan itulah satu-satunya warisan yang paling berharga dari mendiang suaminya. Tanah pekarangan itu ditanaminya dengan padi dan beberapa jenis tanaman palawija sekadar untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Sementara, untuk lauk makan bisa didapatkannya dari memancing atau memasang jaring ikan di sungai kecil dekat rumahnya. Tahun demi tahun berlalu, di bawah asuhan sang ibu yang sangat menyayanginya, Radin Pangantin tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada orang tuanya. Kini usianya sudah mulai menginjak remaja. Meski pergaulannya sangat terbatas, tetapi pikirannya semakin tajam dan pandangannya pun jauh ke depan. Belakangan ia sering duduk menyendiri, merenung memikirkan nasibnya. Diam-diam hatinya merasa cemas melihat keadaan ibunya yang tak sudah semakin menua. Tak teganya rasanya kalau dirinya terus menjadi beban bagi malam, seraya menyantap ubi rebus yang masih hangat mengepulkan asap di hadapannya, Radin Pangantin lama tercenung sambil menatap wajah ibunya. Antara rasa takut dan berani, bibirnya tampak bergetar-getar ingin mengucapkan sesuatu kepada sang ibu. Berkali-kali bibirnya seperti ingin berkata, tapi selalu saja tertahan di tenggorokannya. Ia merasa tak tega untuk berterus-terang mengutarakan maksud hatinya. Ia khawatir kata-katanya akan melukai perasaan ibunya.“Radin, ada apa anakku? Sepertinya kau ingin menyampaikan sesuatu kepada ibu? Kalau ada masalah tidak baik disimpan sendiri. Ayo, ceritakanlah kepada Ibu, Ibu akan siap mendengarkannya.” Sang ibu yang bijak mulai menebak-nebak pikiran anaknya.“Eh, eee… tidak, Bu. Tidak ada apa-apa.” Radin Pangantin tampak tergagap. Ia merasa belum sanggup berterus-terang di hadapan ibunya.“Lalu?” sang ibu mencoba mendesaknya.“Sudahlah, Bu. Lupakan saja.” “Radin, kau sudah besar anakku.”Sekali lagi, agak lama Radin Pangantin menatap wajah ibunya. Di situ, di kedalaman mata tua itu, terpancar ketulusan. Ketulusan hati seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Karena itu, juga lantaran desakan sang ibu, kini keberaniannya pun mulai muncul. Maka, dengan suara agak berat dan terbata-bata, Radin Pangantin akhirnya berani juga menyampaikan keinginan hatinya.“Ibu, maafkan Radin sebelumnya,” ujar Radin Pangantin tampak serius. “Ini menyangkut soal nasib dan masa depan Radin sendiri, Bu. Ibu tahu, sekarang Radin sudah besar. Ibu juga tahu, selama ini kehidupan kita hanya begini-begini saja. Dari tahun ke tahun tak ada perubahan sedikit pun. Dan Radin tidak mau kalau kehidupan Radin selamanya akan menjadi beban tanggungan Ibu. Karena itu, Bu, Radin bermaksud ingin mengadu nasib di kampung orang. Jadi, izinkan Radin pergi ke negeri seberang.”“Merantau maksudmu, anakku?” Diang Ingsun tampak sangat terkejut.“Benar, Bu. Radin ingin merantau. Soalnya…”“Radin!” kontan saja sang ibu menyela, seolah tak percaya pada apa baru didengarnya dari mulut anak semata wayangnya itu. “Coba kau pikirkan sekali lagi, anakku. Sekarang Ibu sudah semakin tua. Kalau kau pergi merantau, lalu Ibu hidup dengan siapa lagi? Apa kau tega meninggalkan Ibu seorang diri?”“Bu, Ibu tidak usah sedih begitu. Radin hanya ingin mengubah kehidupan kita, Bu. Kalau Radin terus hidup di kampung seperti sekarang, Radin tidak akan punya pekerjaan yang bagus dan kehidupan kita juga akan tetap miskin seperti ini. Karena itulah, Bu, Radin harus mencoba mengadu nasib di kampung orang. Nah, kalau nanti Radin sudah berhasil, Radin pasti akan pulang dan membangunkan rumah yang bagus untuk Ibu. Apa Ibu tidak bangga kalau nanti melihat Radin datang sudah menjadi orang terpandang?”Perempuan tua itu kini tak bisa berkata apa-apa lagi. Suaranya seperti tersekat di tenggorokan. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Kepalanya terasa sangat berat. Hingga berhari-hari kata-kata sang anak itu terus terngiang di telinganya. Sering ia duduk tercenung seorang diri. Kedua matanya tampak sayu, menatap kosong jauh ke negeri seberang. Membayangkan nasib anak semata wayangnya hidup susah di Radin Pangantin juga tak mau kehilangan semangat. Setiap saat ia selalu memohon restu kepada ibunya. Setiap ada kesempatan ia selalu berusaha meyakinkan ibunya. Demikianlah, setelah melihat ketulusan dan kebulatan tekad sang anak, sekeras-kerasnya hati seorang ibu akhirnya lunak juga. Demi mengabulkan hajat sang anak semata wayangnya, hati Diang Ingsun pun akhirnya luluh juga. Radin Pangantin telah mendapatkan restu dari sang ibu untuk pergi harinya, di pagi buta Diang Ingsung sudah bangun untuk menyiapkan makanan dan perbekalan seadanya buat Radin Pangantin. Dengan berurai air mata, dilepaskannya kepergian sang anak hingga menghilang di tikungan jalan.“Bu, Radin mohon diri. Tolong doakan Radin agar cepat berhasil mencari pekerjaan. Dan ini, tolong juga peliharakan anak ayam dan anak ikan tauman ini sebagai pengingat Ibu kepada Radin selama di perantauan,” demikian pesan terakhir yang sempat diucapkan Radin Pangantin sebelum kepergiannya. Saat Radin Pangantin tiba di pelabuhan, mujur baginya karena secara kebetulan pagi itu ada sebuah kapal dagang yang siap berangkat ke negeri seberang. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Didatanginya seorang awak kapal untuk minta menghadap sang juragan. Setelah mendengar maksud baik dan melihat sikapnya yang sopan, sang juragan pun tidak segan-segan memberi tumpangan kepadanya. Dan, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, selama di perjalanan Radin Pangantin dengan suka rela ikut membantu melakukan apa saja yang bisa dikerjakannya di kapal itu. ***Sudah berbulan-bulan Radin Pangantin hidup di perantauan, di negeri Jawa Dwipa. Berkat doa sang ibu, begitu sampai di tanah Jawa ternyata memang tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Karena melihat kejujuran dan perilakunya yang selalu santun, sang juragan kapal yang dulu ditumpanginya itu langsung mengangkat Radin menjadi salah seorang pegawainya. Bahkan, setelah melihat keuletan dan bakatnya yang besar dalam bidang perdagangan, Radin pun semakin mendapat kepercayaan dari sang juragan. Ia diberi pinjaman modal untuk membuka usaha dagang sendiri di daerah lain. Berselang tahun kemudian, seiring dengan usahanya yang terus berkembang dan kian maju pesat, kini Radin Pangantin telah menjadi orang yang kaya-raya. Bahkan, kekayaannya kini sudah melampaui kekayaan orang yang dulu menjadi juragannya. Namanya semakin dikenal di kalangan pedagang dan pengusaha besar. Alkisah, keharuman namanya sampai juga ke telinga raja yang berkuasa di negeri itu. Dan konon, sang raja ingin sekali mengenal Radin Pangantin secara langsung. Suatu hari, diundanglah Radin Pangantin ke istana raja yang kebetulan memiliki seorang anak gadis. Di istana sang raja, ia disambut sebagai tamu kehormatan. Dan, seperti kata pepatah, kalau memang jodoh tidak akan kemana. Singkat kata ringkas cerita, Radin Pangantin akhirnya dikawinkan dengan putri raja tersebut. Pesta perkawinan dilaksanakan secara besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Beragam jenis makanan dihidangkan. Berbagai acara hiburan dipertunjukkan. Seluruh rakyat diundang untuk memeriahkan. Betapa bangganya Radin Pangantin bisa bersanding dengan sang putri kerajaan yang kecantikannya nyaris tak ada bandingan, di atas pelaminan yang begitu megah dan penuh keagungan. ***Pesta perkawinan telah lama berlalu, masa bulan madu pun sudah pula ditinggalkan. Entah kenapa, dalam beberapa hari belakangan ini, di benak Radin Pangantin terbetik kerinduan akan kampung halaman yang sudah sekian lama ditinggalkannya. Selain itu, permintaan sang istri untuk segera bertemu dengan ibu mertuanya membuat Radin Pangantin tak mungkin lagi menunda waktu terlalu lama. Maka, beberapa hari kemudian disiapkanlah sebuah kapal besar milik kerajaan lengkap dengan perbekalan beserta para pendamping dan seluruh awak kapalnya. Setelah segala persiapan lengkap, kini bertolaklah kapal megah itu membawa rombongan Radin Pangantin dan istrinya menuju pulau Borneo di seberang lautan. Kapal pun melaju dengan tenang. Setelah berselang minggu berbilang bulan, akhirnya tibalah kapal kerajaan itu di tempat tujuan. Namun, karena besarnya ukuran kapal tersebut, kapal itu tak bisa bersandar langsung di pelabuhan. Sauh diturunkan, tubuh kapal terpaksa harus parkir agak jauh dari beberapa awak kapal memberi tahu kepada penduduk bahwa kapal itu membawa rombongan Radin Pangantin dan istrinya, orang sekampung pun segera menjadi gempar. Mereka berduyun-duyun datang ke pelabuhan untuk menyaksikan langsung kemegahan kapal tersebut. Semua terheran-heran. Semua berdecak kagum. Ada yang geleng-geleng kepala, ada pula yang ragu setengah percaya. “Kapal Radin Pangantin? Benarkah?” ucap seorang penduduk mengungkapkan keraguannya.“Jadi, si Radin sekarang sudah jadi orang kaya-raya?” yang lain menimpali.“Wah, hebat! Luar biasa! Seumur hidupku belum pernah melihat kapal sebesar itu!” timpal yang lain sampai berselang hari, kabar kedatangan Radin Pangantin itu pun akhirnya sampai juga ke telinga sang ibu, Diang Ingsun. Perempuan yang sudah semakin tua renta itu kini benar-benar merasakan kerinduan yang luar biasa. Dalam benaknya segera terbayang kembali saat-saat terakhir ketika ia melepaskan kepergian sang anak semata wayangnya itu bertahun-tahun yang lalu. Tak kuasa ia menahan gejolak perasaannya. Cairan hangat pun segera meleleh dari kedua sudut mata tuanya. Tapi, kini semangat hidupnya kembali menyala. Ia ingin segera bertemu dengan sang anak yang sudah begitu lama yang kurus dan semakin renta itu kini seakan mendapatkan kekuatan baru. Dengan sebilah dayung rompeng, dikayuhnya sampan tua dengan sekuat tenaga untuk segera sampai ke pelabuhan. Tak lupa dibawakannya anak ayam yang kini sudah menjadi ayam jago dan ikan tauman yang kini sudah sangat besar pula. Syahdan, berjam-jam kemudian, sampailah Diang Ingsun di pelabuhan. Orang-orang merasa kasihan melihatnya. Tapi Diang Ingsun tak mau ambil pusing, sampan tua itu terus dikayuhnya hingga mendekati bagian depan kapal tempat Radin Pangantin dan istrinya sedang berdiri bergandeng tangan sambil memandang jauh ke tepi daratan.“Radin Pangantin, anakku! Radin Pangantin, anakku…!!” Diang Ingsun mencoba berteriak-teriak memanggil anaknya di sela-sela guruh geladak depan kapal itu tampak istri Radin Pangantin mengucapkan sesuatu ke telinga sang suami seraya menunjuk-nunjuk ke arah perempuan tua yang sedang berdiri di atas sampan kecil di sisi lambung kapal mereka. “Radin Pangantin, ini ibumu! Ibu sangat merindukanmu, Radin…!!”Radin Pangantin tak bergeming sedikit pun. Meski ia sebenarnya sudah melihat ke arah orang tua itu, tapi rupanya ia merasa malu di depan istrinya untuk mengakui perempuan tua renta dengan pakaian penuh tambalan itu sebagai ibu kandungnya. “Tidak! Kau bukan ibuku. Kamu bukan ibuku…!!” teriak Radin Pangantin lebih keras seraya menunjuk-nunjuk sambil tetap berdiri dengan pongahnya di geladak depan kapal itu.“Radin, percayalah, ini ibumu! Aku ibu kandungmu, Radin…!!”“Tidak, kau bukan ibuku! Kamu bukan ibuku…!!”Sementara itu, di atas geladak kapal megah itu sang istri mencoba membujuk suaminya. “Kakang, kalau dia memang ibumu, kenapa kau harus merasa malu untuk mengakuinya? Kakang, ayolah jemput ibumu dengan baik-baik. Aku tidak malu. Aku akan terima kalau dia memang ibu mertuaku, bagaimana pun keadaannya. Ayolah, Kakang….”Radin Pangantin tetap pada pendiriannya.“Radin Pangantin, ini ibumu! Ini sengaja Ibu bawakan dari kamupung ayam jago dan ikan tauman peliharaanmu dulu. Ini bukti kalau aku adalah ibumu, Radin…!!” Diang Ingsun sekali lagi mencoba bersabar dan terus berusaha meyakinkan anaknya.“Dasar perempuan tua jelek! Sudah kukatakan, kau bukan ibuku…!!”Setelah berkali-kali mencoba tetap bersabar, tapi melihat sikap Radin Pangantin yang sekarang telah tega mendurhakai dan sangat menyakiti hatinya itu, kesabarannya pun akhirnya hilang juga. Maka, kini perempuan itu pun memanjatkan doa kepada Tuhan agar segera memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.“Wahai, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Adil, aku telah mengandungnya selama sembilan bulan sembilan hari, tetapi sekarang dia telah mendurhakaiku. Air susu dibalas dengan air tuba. Maka, kini tunjukkanlah kekuasaan dan keadilanmu!”Belum lagi hilang riak di bibir, seketika datanglah awan hitam bergulung-gulung disertai dengan tiupan badai yang sangat dahsyat. Bunyi guntur dan petir begitu keras bersahutan. Laut mengamuk. Seluruh penumpang menjadi panik. Semua berteriak-teriak histeris meminta pertolongan. Sedetik kemudian, tubuh kapal itu telah melambung tinggi ke atas dan secepat itu pula kembali jatuh terhempas hingga terpenggal menjadi dua bagian yang saling berjauhan. Lalu, setelah segalanya mereda dan kembali tenang seperti sedia kala, tubuh kapal dan seluruh penumpangnya telah berubah wujud menjadi batu. Konon, bagian haluan depan kapal itu kini menjadi Gunung Batu Bini di wilayah Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sementara, bagian buritan belakang kapal itu kini menjadi Gunung Batu Benawa di Kecamatan Pagat, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kata benawa berarti “kapal”, sedangkan kata pagat yang kemudian dijadikan nama kecamatan itu diambil dari peristiwa terpenggalnya kapal Radin Pangantin. Karena itu, cerita ini sering pula disebut “Legenda Gunung Batu Benawa”. Lihat Cerpen Selengkapnya Jumlah Pengunjung 28,679 Cerita rakyat dari Kalimantan adalah kisah-kisah tradisional yang harus dilestarikan agar tetap abadi. Kalau perlu, tampilkan di kurikulum pembelajaran baik untuk pendidikan formal maupun non formal. Pasalnya, di dalam kisah legenda Kalimantan terdapat aneka macam petuah atau nasihat yang bagus. Bahkan, pesan moral yang ada di dalamnya juga perlu dijadikan cerminan melangkah supaya kehidupan yang dijalani lebih madani serta bermartabat. Baca juga ya 5 Alat Musik Tradisional Kalimantan Yang Masih Sering Dimainkan inilah 5 Rumah Adat Betang Di Kalimantan yang indah Sampek adalah Alat Musik Tradisional Kalimantan – foto oln_roy2k Nah, di bawah ini ada beberapa list cerita rakyat dari Kalimantan yang perlu diketahui oleh seluruh anak muda di Indonesia. Paling tidak dengannya keinginan untuk mengetahui kisah legenda semakin terpupuk. Ini dia beberapa kisah atau legenda rakyat kalimantan yang dimaksud 1. Mandin Tangkaramin Mandin Tangkaramin, Cerita Rakyat Dari Kalimantan // Mandin Tangkaramin adalah sebuah kisah legenda yang bermula dari adanya dua pemuda bernama Bujang Alai dan Bujang Kuratauan. Keduanya tinggal di sebuah kampung. Sayang kedua pemuda ini memiliki tabiat yang berbeda. Bujang Alai yang tampan rupawan dan kaya raya ini memiliki tabiat yang sombong. Sedangkan Bujang Kuratauan adalah pemuda berwajah pas-pasan dan dari keluarga sederhana yang baik. Karena sifat inilah kedua pemuda ini selalu bermusuhan. Di dalam kisah ini bisa ditangkap pesan moral kalau manusia tidak boleh sombong dan angkuh. Sebab jika dibaca dari ending cerita kalau Bujang Alai yang angkuh akhirnya meregang nyawa di tangan Bujang Kuratauan akibat sebuah perkelahian di air terjun Mandin Tangkaramin, maka bisa disimpulkan orang yang sombong pasti akan menyesal kelak. 2. Legenda Danau Lipan Legenda Danau Lipan // Cerita rakyat dari Kalimantan yang kedua adalah Legenda Danau Lipan. Legenda ini menceritakan tentang kisah cinta Putri Aji Bedarah Putih yang memiliki paras jelita. Bahkan, saking cantiknya, ketika ia sedang menyirih, maka air yang masuk ke tenggorokannya terlihat dari luar. Karena itu, ratu ini pun diperebutkan oleh raja-raja termasuk raja dari negeri Cina. Pihak kerajaan pun mulai mendatangi Putri Aji Bedarah Putih untuk mengajukan lamaran dengan membawa berbagai macam hadiah. Dari awal kisah ini, muncul konflik percintaan yang sangat ironis. Bahkan juga terselip pesan moral di dalamnya yang bisa dijadikan pedoman ketika hidup di dalam dunia yang salah satunya harus mensyukuri nikmat tuhan. 3. Asal Mula Sungai Landak Cerita rakyat dari Kalimantan, Asal Mula Sungai Landak // Cerita rakyat dari Kalimantan yang ketiga adalah Asal Mula Sungai Landak. Kisah ini bermula saat di sebuah desa ada sepasang suami istri yang hidup sederhana. Sekalipun demikian mereka memiliki hati yang baik, bahkan suka membantu sesamanya yang membutuhkan. Hingga di suatu waktu sang istri bermimpi kalau dirinya melihat hewan landak raksasa di tengah sungai yang berair jernih. Sedangkan sang suami melihat lipan raksasa berwarna putih yang keluar dari kepala istrinya lalu masuk ke dalam lubang. Ini adalah sebuah kisah legenda yang mengandung pesan moral kalau orang yang selalu berbuat kebaikan, maka ia pun akan mendapatkan kebaikan yang sama. Kisah ini juga cocok dengan falsafah “apa yang engkau tanam, maka itu yang akan kau tuai”. 4. Asal Usul Danau Melawen Asal Usul Danau Melawen // Asal Usul Danau Melawen merupakan kisah dongeng yang cukup terkenal di Kalimantan. Legenda ini mengisahkan tentang seorang pemuda tampan rupawan bernama Kumbang Banaung. Sayang, sifat yang dimilikinya tidak setampan wajahnya. Kumbang Banaung adalah pemuda yang suka melawan kepada kedua orang tuanya. Bahkan, ia memaksa ayahnya untuk ikut berburu padahal ia sedang sakit. Namun, karena ayahnya tidak mau ikut, maka ia berburu sendirian dengan rasa marah. Saat pergi berburu ia hanya membawa bekal makanan yang diberikan ibunya dan sebuah piring bernama Piring Melawen yang diberikan oleh ayahnya. Setelah pemberangkatan ke dalam hutan inilah konflik terus terjadi menimpa si pemuda. 5. Kisah Pangeran Biawak Kisah Pangeran Biawak, Cerita Rakyat Dari Kalimantan // Kisah Pangeran Biawak adalah kisah legenda di Kalimantan yang cukup populer. Cerita ini Mengisahkan tentang seorang raja yang memiliki 7 anak perempuan dewasa tetapi semuanya enggan untuk menikah. Berbagai upaya pun dilakukan tetapi tetap saja ketujuh putri masih belum siap menikah. Kecuali mereka menemukan pemuda yang tampan sekaligus memiliki kesaktian yang luar biasa. Di dalam kisah ini terdapat konflik percintaan dan perkelahian. Sebuah narasi yang memang khas dari kisah-kisah klasik yang pernah muncul di daerah-daerah Indonesia. 6. Asal Muasal Sungai Mahakam Asal Muasal Sungai Mahakam // Sungai Mahakam adalah sungai terbesar di Kalimantan. Tak dinyana, ternyata sungai ini memiliki kisah legenda tersendiri yang ceritanya sudah diketahui oleh masyarakat setempat. Menurut legenda tersebut, dulu di hulu Sungai Mahakam ada tiga orang saudara yaitu Siluq, Ongo dan Alus. Ketika sudah waktunya berburu, Siluq dan Ongo berangkat ke hutan sedangkan Alus memasak di rumah. Sesungguhnya ketika Alus memasak, masakannya selalu istimewa serta nikmat. Namun, karena keingintahuan terhadap apa yang dimasak oleh Alus, maka Siluq pun membuka tungku yang sedang mendidih padahal perjanjian di antara keduanya dilarang untuk melakukan hal tersebut. *** Itulah beberapa cerita rakyat dari Kalimantan yang perlu diketahui oleh pembaca. Sebuah kisah legenda yang perlu dilestarikan karena mengandung pesan moral yang tinggi.