CeramahAgama Islam Tentang Meneladani Wara' Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Pada kesempatan yang lalu kita telah membicarakan 6 bentuk wara'. Berikut ini kita akan lanjutkan dengan kutipan dan nasihat dari Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin. Beliau di sini berbicara tentang wara'.
m89XK. Tulisan tentang “Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam” ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, Hafidzahullahu Ta’ala. Transkrip Ceramah Singkat Tentang Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa SallamVideo Ceramah Singkat Cinta Sejati Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda لَا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنَّاسِ أجْمَعِينَ “Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai aku lebih dari cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.” HR. Bukhari dan Muslim Iman yang dinafikan dalam hadits ini adalah kesempurnaan iman. Artinya kalau ada seorang di antara kita yang masih mencintai orang lain lebih dari cintanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka dia tidak lantas kafir, tidak lantas keluar dari Islam, namun ia berdosa. Karena yang dinafikan adalah kesempurnaan iman yang wajib. Jadi, wajib bagi setiap muslim untuk mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih dari cintanya kepada segala sesuatu dan kepada siapapun. Dalam riwayat Al-Bukhari yang lain disebutkan bahwasanya Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diri saya sendiri.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan “Tidak wahai Umar, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya sampai engkau menjadikan aku lebih engkau cintai dari segala sesuatu termasuk dari dirimu sendiri.” Maka Umar bin Al-Khattab mengatakan “Sekarang wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu termasuk dari diriku sendiri.” Maka kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan الآنَ يَا عُمَرُ “Sekarang wahai Umar baru benar.” Hadits yang kedua ini menjelaskan bahwasanya yang dimaksud dengan cinta dalam hadits ini adalah cinta dalam arti yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar pengagungan. Karena mengagungkan itu lebih mudah daripada mencintai. Dan Umar bin Khattab tidak pernah mengagungkan diri beliau lebih daripada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun beliau sempat untuk mencintai diri beliau lebih dari cinta beliau kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hal ini menjelaskan bahwasanya seorang sahabat sekaliber Umar bin Khattab tidak mengetahui sebagian hukum Islam. Namun lihatlah bagaimana ketika beliau mengetahui bahwasanya hal ini adalah sebuah kewajiban. Saat itu juga beliau menyatakan bahwasanya beliau mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih dari cinta beliau kepada siapapun. Dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam layak untuk dicintai lebih dari siapapun dan apapun. Karena faktor penyebab cinta seseorang kepada orang lain ada tiga Faktor fisik/lahir. Misalnya karena parasnya yang menawan atau karena suaranya yang indah. Faktor batin /internal/inner beauty. Misalnya karena keshalihan seseorang atau tingginya ilmu yang dia miliki. Faktor jasa. Ketiga faktor ini ada pada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tingkatnya yang paling tinggi. Jasa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam menebar/membawa hidayah untuk umat akhir zaman ini jauh lebih tinggi/lebih besar daripada jasa siapapun kepada kita. Bahkan jasa itu lebih besar daripada jasa ibu kita sendiri yang berbulan-bulan mengandung kita, susah payah mendidik kita dengan berbagai kenakalan kita. Tanpa pernah merasa capek, tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah mengharapkan jasa. Kalau seandainya ibu kita telah memberikan cintanya dengan sepenuhnya, telah menjalankan tugasnya tanpa berkurang sesuatupun. Apalah artinya kalau ternyata di akhirat kita tidak masuk surga, kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi di sana. Semua jasa itu akan menjadi sia-sia tidak ada artinya di akhirat. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sebab yang telah Allah pilih agar kita bisa masuk surga, agar kita bisa merasakan kebahagiaan di alam keabadian. Maka sudahkah Anda mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih dari cinta Anda kepada orang tua Anda, kepada anak Anda, kepada harta Anda yang paling mahal? Anda tidak punya jawaban kecuali satu, yaitu mengatakan iya. Karena jawaban tidak membuat Anda jatuh dalam dosa. Jawabannya cuma satu. Kalau Anda sudah bisa mengatakan iya, alhamdulillah. Kalau belum, sadarilah itu adalah dosa dan menjadilah Umar bin Khattab sekarang. Katakanlah “Wahai Rasulullah, sekarang saya lebih mencintai engkau lebih dari cinta saya kepada siapapun.” Demikian, jadikanlah cinta Anda kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai cinta yang paling besar. Dan dengan begitu InsyaAllah Anda akan dibangkitkan bersama beliau di akhirat nanti. Wallahu ta’ala a’lam. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم Video Ceramah Singkat Cinta Sejati Sumber video Yufid TV Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Mencintai Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..
sumber gambar canva + pixabayPentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW di era globalisasi dalam Kehidupan. Akhlak yang paling baik di dunia ini yaitu akhlak Nabi Muhammad sebagai umat muslim yang hidup ditengah arus globalisasi sangat mudah terjerumus mengikuti pergaulan yang baru. Akhlak mulia yang dimiliki seseorang semakin hancur sedikit demi sedikit seiring perkembangan zaman. Waters mengatakan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses sosial, yang mana batas-batas geografis tidak penting terhadap kondisi sosial budaya, yang akhirnya menjelma ke dalam kesadaran yang berlangsung dan melanda kita umat muslim sekarang ini menampilkan sumber dan watak yang berbeda. Proses globalisasi dewasa ini, tidak lagi bersumber dari timur tengah, melainkan dari globalisasi muncullah berbagai perbedaan mulai dari pemikiran, pandangan, gaya hidup, hingga budaya. karena batas-batas geografis sudah tidak penting lagi di era ini maka hal baru yang asing, kini dengan mudahnya masuk ke kehidupan. Dalam hal ini, membuat kita rentan mengikuti budaya baru tanpa menyaringnya terlebih dahulu dan bisa membuat terjerumus pada hal-hal yang tidak kecil Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukan kesalahan, tidak pernah terjerumus dalam dosa, dan tidak pernah sekalipun terjerumus ke dalam hal buruk. Padahal zaman dulu kota Makkah banyak hal-hal duniawi terbuka lebar. Nabi Muhammad SAW selalu terhindarkan hal buruk karena Allah SWT menjaga dan melindungi beliau dari berbagai kenikmatan sebagai kaum muslim yang hidup ditengah arus globalisasi hingga kini pun tak luput dari hingar bingar kenikmatan duniawi. Dengan demikian, kita juga harus bisa menjaga diri sendiri dalam kehidupan kita sebagai umat Islam harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari sebagai suri tauladan. Berikut perilaku Rasulullah dan bagaimana kita dapat meneladani perilaku tersebut 1. Kesabaran Nabi Muhammad SAWSalah satu akhlak mulia yang dimiliki Nabi Muhammad SAW yaitu sabar dalam segala secuil kisah kesabaran Nabi Muhammad SAW .Dikisahkan, setiap kali Nabi SAW melintas di depan rumah seorang wanita tua, Nabi selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Nabi SAW melewati rumah wanita tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya itu merasa heran, mengapa ia menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk itu Nabi SAW mendapatkan jawaban bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang jatuh sakit. Bukannya bergembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Nabi mau wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahi setiap kali melewati depan rumahnya, ia pun menangis di dalam hatinya, "Duhai betapa luhur dan baik hatinya manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku."Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, wanita tua itu lantas bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" Nabi SAW menjawab, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya."Mendengar jawaban bijak dari Nabi, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Lalu, dengan penuh kesadaran, ia berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu." Lantas wanita tua itu mengikrarkan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah".Kisah diatas merupakan satu kisah teladan kesabaran Nabi Muhammad SAW yang sungguh menakjubkan. Jika nilai-nilai kesabaran dijadikan landasan dalam kehidupan kita maka bisa terwujud berupa harmonisasi masyarakat, mempererat tali persaudaraan dan masih banyak Hidup Sederhana Nabi Muhammad SAWDalam sebuah riwayat, Allah SWT pernah menawarkan emas sebanyak butiran pasir pada Nabi Muhammad SAW. Kemudian Rasulullah menjawab ''Tidak, ya Tuhanku, lebih baik aku lapar sehari, dan kenyang sehari. Bila kenyang, aku bersyukur memuji dan memuja kepadaMU, dan jika lapar aku akan meratap berdoa kepadaMU".Orang-orang di jaman sekarang yang bergelimang harta benda dan kekayaan hampir sebagian dari mereka tidak terlepas dari kehidupan mewah. Tetapi tidak dengan Nabi Muhammad SAW dengan status yang tinggi dan terhormat rasulullah memilih kehidupan yang sederhana. Rasulullah tidak ingin dunia menjadikan bagian dirinya dan mengajarkan kita tetap bersyukur setiap rezeki halal yang diberikan oleh Allah yang tidak hidup sederhana pasti ada kesombongan dalam dirinya. Karena itu, kesabaran sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain mendapatkan ketentraman dalam hidup, kita juga mendapat ketenangan batin, dan Allah mencintai orang-orang yang Ringan tangan dan Senang berbagiNabi Muhammad SAW memiliki pembawaan yang sangat menyenangkan. Rasulullah sangat ringan tangan dalam menolong siapapun. Rasulullah menolong siapapun. Tidak pernah sekalipun Rasulullah mengharapkan imbalan atau timbal balik dari pertolongan yang diberikannya. Rasulullah hanya merasa bahagia setiap memberikan mulia Nabi Muhammad SAW yang menonjol lainnya yaitu senang berbagi. Rasulullah tidak pernah menyisakan harta di rumahnya untuk hari esok. Sebanyak apapun, selalu Rasulullah habiskan untuk sesuatu kepada orang lain di landasi dengan ketulusan dan keikhlasan tidak akan membuat kita rugi. Allah SWT telah berjanji untuk menggantinya hingga berlipat-lipat. 2 hal yang sangat penting pada poin ini yaitu tolong menolong dalam hal kebaikan dan memberi sesuatu dengan ikhlas. Hal ini jika kita terapkan pada kehidupan sehari-hari akan mendapat pahala dan kebaikan tersebut akan kembali pada diri kita Muhammad SAW sangat santun. Kesantunan Rasulullah tidak pandang bulu. Rasulullah bersikap santun pada pejabat tinggi dan rakyat kecil. Rasulullah juga santun dengan orang dewasa dan anak adalah mempunyai tutur kata yang baik dan tingkah lakunya. Di era globalisasi banyak sekali anak muda yang telah melupakan dan meninggalkan akhlak ini. Padahal justru akhlak inilah yang akan membawa perdamaian dan persatuan di era mana dengan sikap santun ini, kita bisa mengimplementasikan pada kehidupan bersosial dengan menjaga tutur kata dan tingkah laku kita pada perbedaan yang ada sehingga bisa membuat orang-orang yang ada di sekitar kita merasa nyamanPada dasarnya, akhlak sangat penting di era globalisasi terutama bagi kehidupan kita sebagai kaum muslim. Karena itu, berhubungan langsung dengan Allah SWT. Akhlak juga tidak dapat dipisahkan dengan kita karena secara tidak langsung akhlak mencerminkan keimanan kaum akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Dan juga orang yang banyak masuk surga dan paling dicintai serta paling dekat dengan Rasulullah Saw nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Nabi Muhammad SAW bersabda إِنَّ مِنْ أَحِبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًاArtinya “Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat denganku yaitu orang yang paling baik akhlaknya” HR. Tirmidzi.Dengan demikian, meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW membuat kita terhindar dan menjauhi larangan Allah SWT. Pada awalnya cukup berat untuk dilakukan bagi kita yang tidak terbiasa, tapi jika dibiasakan terus-menerus dan diringi dengan usaha maka akan membuat ringan bila dikerjakan. Karena melakukan segala hal baik akan mendatangkan banyak sekali manfaat.
INFO JABAR — Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, mengatakan secara garis besar ilmu dalam Islam ada tiga, yakni tauhid, fikih, dan tasawuf.“Konsekuensi dari seseorang yang mempelajari ilmu tauhid adalah ditempatkan atau abadi di surga, yang tidak mempelajari ilmu tauhid akan ada di neraka,” kata Uu saat berceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 Hijriah di Yayasan Al Masoem, Kabupaten Sumedang, Jumat, 8 November menjelskan tauhid adalah ilmu yang membahas tentang keesaan Allah SWT dan aqidah. Seseorang dikatakan beriman atau tidak, tergantung pada tauhidnya. Begitupun seseorang disebut mukmin orang beriman atau tidaknya juga tergantung pada fikih, kata Uu, bisa disebut juga ilmu syariah. Seseorang yang melaksanakan ilmu ini pertanda dirinya sebagai orang yang ahli memaparkan ada empat rukun yang diajarkan dalam ilmu fikih, yakni rukun ubudiyah atau tata cara beribadah, rukun munakahat atau tata cara perkawinan, rukun muamalat atau tata cara berniaga, dan rukun jinayah atau ilmu “Kita sebagai orang beriman harus tahu ilmu fikih dan melaksanakannya. Seseorang yang melaksanakan ilmu fikih disebut muslim,” ilmu tasawuf, Uu menjelaskan inti dari ilmu ini adalah keikhlasan dalam hati. Untuk itu, segala bentuk ibadah dilaksanakan dengan niat karena Allah SWT. Orang yang melaksanakan ilmu tasawuf disebut mufsidin.“Kita melaksanakan ibadah dengan keikhlasan untuk mendapatkan rida Allah SWT. Jangan ada kita melaksanakan ibadah karena ingin dipuji misalnya,” juga mengatakan inti dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. “Makanya momentum Muludan adalah untuk meniru, meneladani akhlak Rasulullah, baik dari segi keilmuan maupun dari segi sunah-sunah yang harus dilakukan yang tercermin dengan akhlak, moral, dan memiliki budi pekerti yang luhur,” katanya. *